HOME CHART DATA ADV. CHART ADV. DATA CHART PATTERN STOCK PORTFOLIO DOWNLOAD FORUM  
AnalisaBursa.com >> Home
 
           Sun, 01-Feb-2015 21:40  
Stock Highlight   --   30-Jan-2015   --   
 

 
Username :
Password :
   
 
 
   
 
 
Burung ini tidak tahu resiko yang dihadapinya dan di mana dia mencari makan. Trading Saham ibarat seekor burung mencari makan di mulut buaya. Penuh dengan resiko dan sinyal-sinyal palsu. Apakah anda tahu resiko yang anda hadapi ?

Lanjutkan >>

Sun, 01 Feb 2015 14:48:00 +0700
 
<b>INILAHCOM, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah memperkirakan pertunbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) melambat pada 2015. Direktur Utama PT BNI Syariah Dinno Indiano menuturkan pertumbuhan DPK sebesar 16,4 persen melambat dari 41,42 persen atau Rp17,088,318 triliun.</b></p><p>&quot;Ini melambat karena sudah nggak ada limpahan dana haji lagi dari bank induk dan Kementerian Agama,&quot; ujar Dinno di Jakarta, Minggu (01/02/2015).<br /><br />Ia mengatakan, selain itu, BNI Syariah membidik pertumbuhan pembiayaan 25 persen pada 2015. Target tersebut, papar dia, terbilang melambat dari realisasi 2014 yang tumbuh 33,79 persen dari Rp11,242,241 triliun di 2013 menjadi Rp15,040,921 triliun.<br /><br />&quot;Sementara untuk target pembiayaan mikro akan menjadi 15 persen berlaku pada 2018. Akhir tahun lalu mikro baru mencapai 6,96 persen dari total pembiayaan,&quot; jelas dia.<br /><br />Direktur Bisnis BNI Syariah Imam Teguh Saptono mengatakan untuk komposisi pembiayaan, konsumer masih di atas 50 persen terutama pembiayaan perumahan pertama. Ia mengatakan, pihaknya belum melakukan sekuritisasi aset.<br /><br />&quot;Sekuritisasi lewat PT Sarana Multigriya Financial belum dulu karena sulit, karena masih gunakan aqad KPR mudorobah muqoyadah seperti sewa saja, sedangkan kami maunya aqad-nya murobaha bisa dijual beli,&quot; terang dia,<br /><br />Ia juga menjelaskan target Net Inters Margin (NIM) atau pendapatan bunga bersih 7,24 persen lebih rendah dari realisasi sebesar 7,39 persen di 2014 lalu. Namun, ia berharap BNI syariah masih memperoleh sokongan dari pendapatan kerjasama induk BNI Tbk dengan total bidikan Rp475 miliar.<br /><br />&quot;Model kerjasama dengan induk lebih baik dan akan diteruskan pemanfaatan jaringan induk,&quot; kata dia. [aji]</p>...
 


Sun, 01 Feb 2015 13:38:00 +0700
 
<b>INILAHCOM, Jakarta - PT BNI Syariah mencatatkan pertumbuhan pembiayaan mayoritas ke sektor konsumtif. Direktur Utama BNI Syariah Dinno Indiano mengatakan pembiayaan secara total Rp15,04 triliun.</b><br /><br />&quot;Sebagian besar pembiayaan konsumtif sebesar 52,60 persen Rp7 triliun, pembiayaan produktif Usaha Kecil dan Menengah (UKM) 21,61 persen Rp3,2 triliun, pembiayaan komersial 16,15 persen Rp4,24 triliun, pembiayaan mikro 6,96 persen Rp1 triliun dan pembiayaan kartu Hasanah Card 2,68 persen Rp402 miliar,&quot; ujar Dinno di Jakarta, Minggu (01/02/2015).<br /><br />Dinno mengatakan pembiayaan konsumtif mayoritas karena sebelum spin foff atau masih unit syariah fokus ke konsumtif. Namun, ia beralasan pembiayaan konsumtif lebih ke rumah pertama yang pemiliknya akan menjaga betul pengembalian kredit.<br /><br />&quot;Pada pembiayaan Financial Deposit to Rasio (FDR) atau rasio dana terhadap pembiayaan melambat dari 97,86 persen menjadi 92,58 persen. Dengan tingkat Non Performing Financial (NPF) 1,86 persen,&quot; jelas dia.<br /><br />&quot;FDR kita tertolong masuknya dana haji Rp414 miliar dari konvensional BNI, dan Rp4,5 triliun dari limpahan dana haji Kementerian Agama. Sektor konsumtif kami untuk mendukung backlog perumahan 15 juta unit karena ceruknya masih dalam dan rasio kredit macetnya kecil,&quot; ungkap dia menambahkan.<br /><br />Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) lanjut dia, sampai Desember 2014, sebanyak Rp4,76 triliun tumbuh 41,42 persen dari tahun sebelumnya dengan rasio tabungan dan giro (CASA) 45,38 persen.<br /><br />&quot;CASA turun dari 57,20 persen di 2013 menjadi 45,38 persen di 2014 karena dana haji pindah ke deposito itu agar wajar supaya biar kasih imbal hasil lebih. Tentunya akan menggeser Net Interes Margin (NIM) menjadi 7,39 persen,&quot; terang dia. [aji]</p>...
 


Sun, 01 Feb 2015 12:57:00 +0700
 
<strong>INILAHCOM, Jakarta - PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) berencana membagikan dividen dengan ratio 4:1. Nilai dividen saham yang telah disetujui manajemen dan pemegang saham sebesar Rp 2.740 per saham.</strong></p><p>Direktur Keuangan CMNP, Indrawan Sumantri, kemarin mengatakan, rencana tersebut telah disepakati pemegang saham melalui gelaran Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).</p><p>&ldquo;Dividen saham 550 juta lembar tersebut berasal dari kapitalisasi sebagian saldo laba ditahan perseroan yang merupakan dana cadangan yang belum ditentukan penggunaannya per tanggal 31 Desember 2013 senilai Rp1,507 triliun,&rdquo; ungkapnya.</p><p>Ia melanjutkan, cum dividen di pasar reguler dan negosiasi akan dilaksanakan pada 20 Februari 2015, dan cum dividen di pasar tunai pada tanggal 25 Februari 2015. Recording date yang berhak atas Dividen Kas (DPS) pada tanggal 25 Februari 2015.</p><p>Dalam RUPSLB itu, pemegang saham juga telah menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan yang semula sebesar Rp1,1 triliun terdiri dari 2,2 miliar saham, menjadi sebesar Rp1,375 triliun yang terdiri dari 2,75 miliar saham yang penyetorannya berasal dari pembagian dividen saham.</p>...
 


Sun, 01 Feb 2015 12:38:00 +0700
 
<br /><br /><b>INILAHCOM, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah melaporkan pencapaian laba bersih mencapai Rp163,25 miliar sepanjang 2014. Direktur Utama BNI Syariah Dinno Indiano menuturkan realisasi tersebut tumbuh 38 persen dari Rp117,46 miliar pada 2013.</b><br /><br />&quot;Alhamdulillah, data in house selama 2014, beberapa indikator profitabilitas berjalan sesuai rencana,&quot; ujar Dinno di Jakarta, Minggu (01/02/2015).<br /><br />Ia menjelaskan capaian tersebut di tengah gelombang dan tantangan ekonomi. Secara global, jelas dia, adanya tapering of atau penarikan stimulus Bank Central AS , The Fed.<br /><br />&quot;Secara domestik adanya Bank Indonesia menaikan suku bunga hingga ke level 7,75 persen dan adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akhir 2014. Pertumbuhan aset, pendorongnya adanya pembiayaan Rp15,04 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp4,76 triliun.<br /><br />&quot;Aset kami akhir Desember 2014, mencapai Rp19,49 triliun tumbuh 32,52 persen dari Rp14,708,504 triliun di 2013,&quot; papar dia. [aji]</p>...
 


Sun, 01 Feb 2015 11:55:00 +0700
 
<strong>INILAHCOM, Jakarta &ndash; Dalam sepekan terakhir, laju pasar obligasi terlihat variatif dan beberapa justru melemah seiring kekhawatiran pasar atas keluarnya Yunani dari zona euro. Untung saja, stimulus European Central Bank (ECB) bisa jadi peredam.</strong></p><p>&ldquo;Laju pasar obligasi di pekan kemarin terlihat variatif dan beberapa obligasi cenderung melemah harganya seiring adanya aksi jual,&rdquo; katanya kepada <em>INILAHCOM</em> di Jakarta, Minggu (1/2/2015).</p><p>Variatifnya sentimen turut memicu aksi jual pada beberapa seri obligasi meski tidak jarang pula beberapa seri obligasi juga ramai ditransaksikan. &ldquo;Sempat terjadi aksi jual pasca sentimen negatif dari hasil pemilu Yunani di mana Partai Oposisi memenangi Pemilu dan masih tertekannya laju rupiah akibat pergerakan laju dolar AS yang kian menguat pasca pertemuan The Fed,&rdquo; ujarnya.</p><p>Akan tetapi, pelemahan obligasi sempat tertahan dengan adanya sentimen dari pemberian stimulus European Central Bank (ECB) dan perkiraan akan turunnya inflasi. &ldquo;Meskipun, kami belum terlalu yakin inflasi akan turun pasca Pemerintah menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dan semen,&rdquo; papar dia.</p><p>Terlihat pergerakan harga obligasi, khususnya harga obligasi pemerintah mengalami kenaikan lebih rendah dari kenaikan harga di pekan sebelumnya. &ldquo;Begitupun dengan pergerakan yield-nya yang juga hanya turun tipis,&rdquo; tuturnya.</p><p>Kelompok tenor pendek (1-4 tahun) mengalami penurunan rata-data yield -19,04 bps; tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan yield sekitar -9,24 bps; dan tenor panjang (8-30 tahun) turut mengalami penurunan yield sekitar -10,41 bps.</p><p>Terlihat obligasi pemerintah seri benchmark FR0069 yang memiliki jatuh tempo &plusmn;5 tahun cenderung melemah tipis harganya hingga 15 bps. Sementara dengan FR0070 yang memiliki jatuh tempo &plusmn;10 tahun mengalami kenaikan tipis harga 3,37 bps.</p><p>Di pekan kemarin, pemerintah Indonesia telah melaksanakan Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) untuk seri Seri SPN-S14072015 (reopening) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada tanggal 14 Juli 2015; Seri PBS006 (reopening) dengan tingkat imbalan yang ditawarkan sebesar 8,25% dan jatuh tempo pada tanggal 15 September 2020;</p><p>Seri PBS007 (reopening) dengan tingkat imbalan yang ditawarkan sebesar 9,00% dan jatuh tempo pada tanggal 15 September 2040; dan&nbsp; Seri PBS008 (reopening) dengan tingkat imbalan yang ditawarkan sebesar 7,00% dan jatuh tempo pada tanggal 15 Juni 2016 pada hari Selasa, tanggal 27 Januari 2015.</p><p>Total penawaran yang masuk sebesar Rp19,06 triliun di mana seri PBS008 memiliki penawaran yang masuk lebih tinggi sebesar Rp9,51 triliun dengan nilai yang dimenangkan ialah sebesar Rp1,11 triliun. Di sisi lain, untuk total keseluruhan penawaran yang dimenangkan hanya Rp2,2 triliun.</p><p>Total penawaran yang masuk lebih tinggi dari total penawaran yang masuk sebelumnya sebesar Rp13,75 triliun namun, dengan penyerapan yang lebih rendah. &ldquo;Dari empat seri SBSN yang di tawarkan, hanya terserap 3 SBSN sementara untuk seri PBS006 tidak terserap,&rdquo; kata dia.</p><p>Pergerakan pasar obligasi yang masih menguat meski diiringi beberapa sentimen negatif membuat permintaan akan tingkat yield masih menurun karena telah terkompensasi dengan pergerakan harganya yang meningkat meski tipis.</p><p>Yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk setiap seri a.l SPN-S14072015 (6,07%); PBS007 (8,16%); dan PBS008 (7,12%).</p><p>Dari sisi bid to cover ratio, memperlihatkan bahwa angka yang paling besar rasionya senilai 10,30x pada seri SPN-S14072015. &ldquo;Ini memberikan gambaran bahwa banyak pelaku pasar yang masih lebih memilih lelang obligasi jangka pendek untuk ditransaksikan karena lebih likuid dan berdurasi lebih pendek,&rdquo; ungkap dia.</p><p>Seri SPN12160107 memiliki jatuh tempo yang lebih cepat atau pendek dibandingkan dengan jatuh tempo suku bunga SUN lainnya. [jin]</p>...
 


Sun, 01 Feb 2015 09:42:00 +0700
 
<strong>INILAHCOM, Jakarta &ndash; Setelah tembus rekor 5.325 akhir pekan lalu, IHSG berkubang di zona merah dalam sepekan terakhir. Tiga faktor menjadi pemicunya: harga komoditas, kisruh KPK-Polri, dan The Fed.</strong></p><p>Pada perdagangan sepekan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 34,48 poin (0,64%) ke posisi 5.289,4 pada pekan yang berakhir 30 Januari 2015 dibandingkan akhir pekan sebelumnya di angka 5.323,88 pada 23 Januari 2015.</p><p>&ldquo;Tidak jauh berbeda dengan skenario kami sebelumnya untuk pergerakan IHSG di awal pekan di mana laju IHSG memilih untuk berakhir di zona merah pada awal minggu ini. Tembusnya level IHSG pada new high level (5.325,04) membuat pelaku pasar (umumnya) berhasrat untuk melakukan aksi jual,&rdquo; kata Reza Priyambada, kepala riset Woori Korindo Securities Indonesia (WKSI) kepada <em>INILAHCOM</em> di Jakarta, Minggu (1/2/2015).</p><p>Selain itu, lanjut dia, respons berlebihan terhadap kasus KPK dan Polri turut berimbas pada pelaku pasar. &ldquo;Padahal, kami berharap sentimen kasus tersebut sebaiknya tidak bercampur dengan pergerakan pasar sehingga tidak terlalu signifikan pengaruhnya dari kasus tersebut terhadap pasar keuangan,&rdquo; papar dia.</p><p>Di sisi lain, tidak disangka, adanya pemberitaan negatif dari masih turunnya harga komoditas, pemberlakuan pajak barang mewah untuk rumah di atas Rp2 miliar, dan sentimen negatifnya lainnya justru tidak terlalu membuat saham-saham properti turun malah pelemahan didominasi oleh saham-saham konsumsi dan infrastruktur. &ldquo;Berbalik melemahnya rupiah turut menjadi penghalang kenaikan IHSG,&rdquo; tandas dia.</p><p>Meski sempat diwarnai aksi profit taking, laju IHSG mampu berakhir di zona hijau. &ldquo;Mulai adanya aksi beli dan didukung masih adanya aksi beli investor asing membuat laju IHSG dapat berbalik positif serta mampu melampaui kekhawatiran akan terjadinya pelemahan,&rdquo; tuturnya.</p><p>Berbalik naiknya rupiah yang disertai dengan menguatnya sejumlah harga komoditas dan imbas masih positifnya laju bursa saham AS dan Eropa menjadi tambahan sentimen bagi IHSG untuk kembali menghijau. &ldquo;Pergerakan bursa saham Asia yang variatif setelah terimbas melemahnya laju bursa saham AS yang dibarengi kembali melemahnya laju nilai tukar Rupiah dan asing yang berbalik jualan mempengaruhi laju IHSG yang kembali ke zona merah,&rdquo; papar dia.</p><p>Apalagi juga dibarengi dengan adanya pertemuan The Fed di mana secara psikologi memberikan sentimen negatif pada pasar sehingga penguatan IHSG belum sepenuhnya kuat. &ldquo;Terlihat pasca tuntasnya pertemuan The Fed tidak banyak memberikan imbas positif pada bursa saham AS sendiri sehingga direspon negatif oleh pelaku pasar di Asia, termasuk Indonesia,&rdquo; ucapnya.</p><p>Bahkan juga tidak berpengaruh pada nilai tukar dolar AS di mana dolar AS masih ramai ditransaksikan sehingga berimbas pada melemahnya laju rupiah. &ldquo;Laju IHSG mampu melampaui kekhawatiran estimasi kami yang masih akan bergerak melemah dengan adanya aksi jual,&rdquo; kata dia.</p><p>Di akhir pekan, meski laju IHSG diadang dengan variatif cenderung melemahnya bursa saham Asia dan Eropa serta masih melemahnya laju rupiah, laju IHSG masih mampu berakhir di zona hijau dengan memanfaatkan penguatan pada laju bursa saham AS.</p><p>&ldquo;Aksi beli pada saham-saham perdagangan ritel, otomotif, dan perkebunan yang didukung pemberitaan akan adanya kenaikan produksi, turut menopang kenaikan IHSG di akhir pekan,&rdquo; imbuh Reza. [jin]</p>...
 


Fri, 30 Jan 2015 18:45:00 +0700
 
<strong>INILAHCOM, Jakarta - PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menargetkan volume produksi batubara pada 2015 sebanyak 56-58 juta ton, meningkat tips dibandingkan realisasi 2014 sebesar 56,21 juta ton.</strong></p><p>&quot;Fokus Adaro pada 2015 adalah untuk terus berusaha menekan biaya, mempertahankan keandalan pasokan kepada para pelanggan, dan meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam setiap rantai pasokan batubara,&quot; kata GM Head of Corporate Secretary and Investor Relations Division ADRO Cameron Tough dalam siaran pers di Jakarta, Jumat.</p><p>Ia menambahkan bahwa pada 2014, meski harga batubara terus melemah, Adaro tetap menghasilkan kinerja yang relatif baik dan tetap berada di posisi yang tepat untuk menciptakan nilai maksimal yang berkelanjutan dari batubara Indonesia.</p><p>Ia mengemukakan bahwa pada 2014, produksi batubara kami meningkat sebesar 8 persen menjadi 56,21 juta ton yang dihasilkan oleh dua anak perusahaan Adaro, PT Adaro Indonesia (AI) dan Balangan Coal melalui PT Semesta Centramas (SCM).</p><p>&quot;Adaro menyelesaikan tahun 2014 dengan catatan produksi kuartalan sebesar 14,45 juta ton, atau naik 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut di dukung oleh kinerja kontraktor yang baik dan kondisi cuaca yang normal,&quot; katanya.</p><p>Ia mengemukakan bahwa pada kuartal IV 2014 perseroan menjual 14,65 Mt batubara, sehingga penjualan tahunan mencapai 57,02 Mt dimana batubara Adaro terus diminati berbagai pelanggan, khususnya dari Indonesia dan India.</p><p>&quot;Adaro terus menjadi pemasok utama bagi pasar domestik Indonesia dan tetap berkomitmen untuk mendukung pemenuhan permintaan batubara yang terus meningkat di Indonesia,&quot; kata Cameron Tough.</p><p>Di India, ia mengemukakan bahwa penggunaan yang tinggi dari pembangkit listrik bertenaga batubara, dan juga gangguan pada pasokan domestik, menghasilkan kenaikan impor sebesar 20 juta ton pada kuartal IV 2014.</p><p>&quot;Impor batubara di India diharapkan terus berkembang di 2015, sementara permintaan batubara lokal di masa depan akan terjamin mengingat rencana pemerintah untuk membangun pembangkit listrik bertenaga batubara yang baru,&quot; katanya. [tar]</p>...
 

Popular Business News

View All ...
 
  Stock Data 30-Jan-2015 collected
Stock data for 30-Jan-2015 has been successfully collected and entered into database.Click Here to view...
30-Jan-2015 18:00, by: System, Cat: Data Collect

Stock Data 29-Jan-2015 collected
Stock data for 29-Jan-2015 has been successfully collected and entered into database.Click Here to view...
29-Jan-2015 18:00, by: System, Cat: Data Collect

Stock Data 28-Jan-2015 collected
Stock data for 28-Jan-2015 has been successfully collected and entered into database.Click Here to view...
28-Jan-2015 18:00, by: System, Cat: Data Collect

  >> View All
 
INTRODUCTION TO ANALISABURSA.COM
Anda KAPOK bermain saham ? Trading Saham lebih sering KALAH ? KESULITAN mencari saham yang bagus ? Tidak...
31-Jul-2010 20:00, by: Admin, Cat: Introduction

PETUNJUK PENGGUNAAN
Langkah-Langkah Pendaftaran New Member: Masukkan username dan password dengan benar. Untuk New...
30-Jul-2010 21:00, by: Admin, Cat: Introduction

MENGENAL BURSA SAHAM INDONESIA
Buat para pemula yang belum mengenal BURSA SAHAM atau ingin mencoba TRADING SAHAM sebaiknya banyak...
30-Jul-2010 06:03, by: Admin, Cat: Introduction

  >> View All
Last 30 Days Member Viewed Stocks

Member:   1388
Online Member:   26
News :   84
Tutorial :   11
Stocks :   0
Last Stock Data :   30-Jan-2015
AnalisaBursa.com © 2010,2011,2012